Politik Elite Tidak Bermutu

Menjelang pesta demokrasi serentak pada 2019 mendatang, masyarakat mulai dipertontonkan oleh tingkah laku elite politik dalam merebut perhatian masyarakat. Saling lempar isu, diksi sensasional sampai analisa-analisa non-substansial adalah tontonan yang disuguhkan oleh para politisi saat ini. Sebut saja seperti diksi “sontoloyo”, “politik genderuwo” hingga tuduhan-tuduhan kebangkitan PKI dan infiltrasi ISIS di Pilpres tahun depan.

Praktik politik seperti itu tentu jauh dari kata ideal, karena tidak ada perdebatan gagasan ataupun program-program bermutu. Sehingga masyarakat tidak mendapatkan pendidikan dan pencerdasan politik sedikitpun.

Inilah mengapa politik saat ini tidak terlihat menarik, karena baik Jokowi ataupun Prabowo tidak memiliki perbedaan signifikan. Mereka berdua sama-sama elite, sama-sama membodohi publik, dan sama-sama tidak memiliki landasan ideologi kuat ketika maju sebagai calon presiden.

Dalam kaca mata politisi, fenomena sensasional dari kedua kubu memang lumrah terjadi pada masa kontestasi politik. Seorang politisi pasti memilih diksi yang sensasional agar kuat tertanam dalam persepsi publik.

Strategi ini mendapat jawaban dalam ilmu terapan neuro-politik dimana otak manusia cenderung reaktif terhadap kata-kata yang mengandung daya sensasi apalagi jika menyentuh naluri primitifnya. Maksud taktik komunikasinya jelas. Jika ingat kata itu pasti ingat pengucapnya.

Politik semacam itu dipengaruhi oleh pemikiran Machiavelli dalam buku The Prince. Ia mengatakan bahwa moralitas dan etika itu harus dipisahkan dari panggung politik. Pemikiran Machiavelli mempengaruhi politik modern saat ini, tidak terkecuali di Indonesia.

Politik semacam itu dipengaruhi oleh pemikiran Machiavelli dalam buku The Prince. Ia mengatakan bahwa moralitas dan etika itu harus dipisahkan dari panggung politik. Pemikiran Machiavelli mempengaruhi politik modern saat ini, tidak terkecuali di Indonesia.

Itulah mengapa terjadi kasus-kasus sensasional seperti kebohongan Ratna Sarumpaet, saling tuduh komunisme atau ISIS. Karena memang para elite politik itu hanya mengincar kekuasaan tanpa memperdulikan apakah taktik mereka akan berdampak buruk bagi masyarakat atau tidak. Menurut Machiavelli,  dengan cara seperti itulah seorang pelaku politik bisa merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Lambat laun, politik sensasional itu menguasai memori publik. Kita akhirnya lupa bahwa substansi dari semua permainan kata ini ialah memilih presiden dan wakil presiden yang paling tepat untuk memimpin bangsa ini keluar dari keterpurukan.

Diskursus di ruang publik pada akhirnya kering kerontang dari substansi. Politik kata-kata membuat banyak orang tenggelam dalam sensasi kenikmatan semu, lalu lupa hakikat dirinya sebagai demos dalam demokrasi. Padahal, ruang demokrasi seharusnya menjadi ruang transaksi dan pasar ide gagasan untuk mencapai  bonum commune.

Pada taraf tertentu ,efeknya rakyat akhirnya melupakan persoalan dasar seperti infrastruktur, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, rendahnya mutu pendidikan, dan dehumanisasi yang masih lekat di akar rumput. Rakyat pun menjadi tercabut dari hakikatnya sebagai ‘demos’ dimana seharusnya semua masalah mendasar yang ia hadapi  menjadi diskursus utama dalam demokrasi.

Begitu pula dengan kedua capres yang maju bertarung. Suara rakyat yang terekam oleh mereka bukan lagi menyangkut kebutuhan krusial tetapi hanyalah pantulan ujaran kebencian, amarah, ketakutan bahkan lelucon semata.

Kita lupa bahwa masih banyak pekerjaan rumah bangsa yang harus diselesaikan seperti kemiskinan dan pelanggaran HAM masa lalu. Lupa bahwa masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Lupa bahwa korupsi terus menjalar dari pusat sampai ke desa.

Mengutip pendapat dari Arie Sujito, Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada bahwa praktik politik semacam itu tidak menyentuh akar rumput. Masyarakat akar rumput justru akan lebih tersentuh bila para pelaku politik suguhkan isu-isu pembangunan dan kesejahteraan sosial. Karena, isu tersebut lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat dana pa yang menjadi kepentingan mereka.

Editor: Andika Ramadhan Febriansah

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini