“Papa” Setnov Belum Kapok !

Bukan Setya Novanto namanya kalau tak jadi kepala berita. Mantan Ketua DPR itu menjadi perhatian publik lantaran kerap berpelesir keluar sel tahanan. Padahal, bekas Ketua Umum Partai Golkar tersebut tengah menjalani masa hukuman 15 tahun akibat kasus korupsi e-KTP di Lapas Sukamiskin, Bandung

Terakhir, dia tertangkap kamera sedang berkunjung ke sebuah toko keramik di daerah Padalarang, kabupaten Bandung. Saat itu, dia terlihat bersama seorang perempuan yang diduga sebagai istrinya.

Dalam catatannya, Setnov memang diizinkan keluar Lapas Sukamiskin pada 12 Juni 2019. Namun, izin itu diberikan bukan untuk berkunjung ke toko bangunan apalagi melihat-lihat rumah contoh.

Izin dikeluarkan karena Setnov berkilah menjalani rawat inap di RS Santosa Bandung. Tidak diketahui Setnov sakit apa. Tapi dia baru kembali lagi ke lapas pada Jumat sekitar pukul 19.00 WIB.

Sabtu (15/6/2019), Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (PAS) Ade Kusmanto menyebut pertimbangan pemindahan lantaran Lapas Gunung Sindur memiliki pengamanan yang lebih ketat dibandingkan lapas yang lain.

“Lapas Gunung Sindur adalah rutan untuk para teroris, dengan pengamanan maksimum, ‘one man one cell’. Diharapkan Setnov tidak akan melakukan kembali pelanggaran tata tertib lapas dan rutan selama menjalani pidananya,” kata  Ade dalam AntaraNews.

Kendati demikian, Ade mengaku bahwa pemindahan Setnov hanya akan bersifat sementara. Jika yang ditahan mau memperbaiki perilakunya, maka akan dipindahkan kembali ke Sukamiskin.

Terkait insiden ini, Ade mengaku bakal memeriksa petugas yang mengawal Setnov. Sebab dalam pengakuannya, pada sel Setnov sudah dipasang kamera pemantau khusus, sehingga keluar masuknya terpidana korupsi e-KTP itu bisa diketahui.

Bukan pertama kali ‘Papa’ Setnov berulang. Publik tentu masih ingat Setnov pernah diduga menempati sel palsu di Lapas Sukamiskin Bandung. Dugaan itu muncul ketika tayangan eksklusif ‘Mata Najwa’ tentang sel Sukamiskin tayang, Juli 2018. 

Dalam tayangan itu, Najwa menyebut Setnov dan juga terpidana korupsi lainnya M. Nazaruddin tak menempati sel aslinya. Hal itu diketahui karena barang-barang yang ada dalam sel Setnov tak sesuai dengan kepribadian mantan Ketum Golkar ini.

Temuan Najwa itu kemudian dibenarkan oleh Menkumham Yasonna Laoly.

Selain sel palsu, pada April 2019, Setnov juga dikabarkan terlihat di sebuah Restoran Padang di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Kahumas Ditjen Pas Ade membenarkan Setnov berada di luar lapas untuk mendapatkan tindak lanjut perawatan di RSAD Gatot Soebroto.

Ade menyatakan, berdasarkan rujukan dokter Lapas Sukamiskin pada 26 Maret 2019, yang ditandatangani oleh Susi Indrawati, pengobatan Novanto dapat dilaksanakan di rumah sakit rujukan pemerintah.

Kejadian ini semakin menegaskan bahwa ada persoalan serius dalam pengelolaan serta pengawasan lembaga pemasyarakatan di Indonesia peristiwa keluarnya Setnov dari sel untuk tujuan pelesiran membuat Kemenkum HAM seperti terlihat tidak menghargai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Apalagi, sebelumnya eks Kepala Sukamiskin pun sudah pernah ditangkap karena terbukti menerima suap.

Publik bakal bertanya-tanya seberapa besar keseriusan pemerintah dalam memberikan efek jera bagi para koruptor khususnya terkait kasus Setnov ini,tentunya kita sama-sama berharap bahwa para koruptor tidak dimanjakan oleh para penegak hukum yang amat sangat garang ketika berhadapan dengan rakyat tetapi tunduk ketika berhadapan dengan para penjahat kakap.

Bagaimanapun, pemindahan dari satu penjara ke penjara lain dinilai tidak cukup untuk mencegah berulangnya skandal napi koruptor seperti Setnov.

Apalagi, kata peneliti Indonesia Corruption Watch, Kurnia Ramadhana, berbagai skandal napi koruptor terus terjadi di sejumlah lapas, dari sel mewah hingga pelesiran keluar penjara.

“Yang paling penting bukan napi dipindahkan ke mana, tapi bagaimana pengawasan internal di seluruh lapas di Indonesia benar-benar dibenahi,” ujar Kurnia.

Kurnia juga menyoroti beragam mutasi pejabat lapas yang disebutnya tidak efektif mencegah penyelewengan aturan penjara.

Kalau mekanisme pengawasan napi tidak segera direvisi, kata Kurnia, pemberantasan korupsi akan jadi pepesan kosong belaka.

“Kejadian terbaru Novanto menandakan tidak ada komitmen serius dari Kemenkumham untuk memberi efek jera pada pelaku korupsi,” ujarnya

“Lapas adalah ujung penegakan hukum. Kinerja kepolisian, kejaksaan, KPK, dan institusi kehakiman sia-sia jika lapas terus bermasalah. Menkumham harus bertanggung jawab atas kejadian ini.”

Selama ini skandal pelesiran terus muncul dari napi Lapas Sukamiskin. Bukan hanya Setnov, tapi juga koruptor lain seperti Gayus Tambunan, Anggoro Widjojo, hingga Rachmat Yasin.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini