Memperingati 50 Tahun Kepergian Sang Demonstran


“Saya putuskan bahwa saya akan berdemonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan” – Soe Hok Gie-

Soe Hok Gie nama seorang demonstran itu, meninggal tepat 50 tahun yang lalu atau 16 Desember 1969 di ketinggian hampir 3.676 meter dpl puncak Mahameru tepat sehari sebelum ulang tahunnya. Ia gugur bersama seorang anggota Mapala UI lainnya bernama Dhanvantari Lubis akibat terjebak gas beracun.

Gie adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah munculnya angkatan ’66. Demonstran yang lahir pada 17 Desember 1942 ini sudah memiliki sikap kritis sejak duduk di bangku sekolah, ia tak sungkan mendebat gurunya bahkan dalam tulisannya di buku catatan hariannya ia menulis. “Guru model gituan, yang tak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah, Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau”.

Sebuah peristiwa yang ia ceritakan di dalam buku hariannya semakin membuat kesadaran politiknya tumbuh dimasa remaja, mana kala ia memberikan uang Rp 2,50 kepada seseorang yang sedang makan kulit mangga. “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang” tulis Gie dalam catatan hariannya.

Saat semakin dewasa kesadaran politiknya semakin tumbuh, Gie menjadi salah satu orang yang menganggap bahwa orde lama yang dipimpin Soekarno adalah orde yang salah, di saat sebagian besar masyarakat Indonesia masih mabuk dengan slogan-slogan patriotisme namun Gie dengan lantang berteriak “TIDAK” pada orde Soekarno.

Tetap Berdiri di Atas Prinsipnya

Gie yang terlibat turut aktif mengkritik dan menggayang PKI tetapi ia juga menjerit mana kala 80.000 tahanan G30S dipenjarakan secara sewenang-wenang tanpa melalui proses pengadilan. Bahkan ia menjadi salah satu orang yang pertama mengkritik pembantaian terhadap simpatisan PKI di bali dengan tulisannya yang berjudul “Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran Di Pulau Bali” karena baginya masalah kemanusiaan adalah yang utama ketimbang masalah ekonomi dan politik.

Begitupun saat Soekarno tumbang banyak kawan-kawannya sesama aktivis mahasiwa yang duduk dalam DPR-GR justru berebut untuk mendapatkan kredit-kredit mobil Holden, mobil mewah pada saat itu, tetapi Gie justru memilih untuk menarik diri dan mengajar di almamaternya ia bependapat “dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi” bahkan ia mengirimkan perlengkapan make up kepada kawan-kawannya yang duduk sebagai wakil mahasiswa di DPR-GR dengan pesan. “Semoga anda makin tampil manis di mata pemerintah”.

Itulah Gie, seorang yang menjadi musuh bagi Soekarno tetapi juga dibenci Soeharto karena baginya tugas seorang intelektual adalah menjadi pengingat, ketika keadaan buruk ia bergegas meninggalkan sarangnya untuk mengabarkan keadaan yang bisa membahayakan dan ketika keadaan telah berubah baik ia akan kembali ke sarangnya tanpa meminta pamrih politik apa pun, Gie sudah membuktikan bahwa ia adalah seorang intelektual dimana saat kawan-kawan seperjuangannya sebagian besar larut pada struktur kekuasaan, ia memilih untuk tetap mengawal perubahan dengan sendirian, terasing dan kesepian.

Dalam peringatan 50 tahun kepergian sang demonstran ini semoga kita bisa belajar bahwa masih ada aktivis mahasiswa yang benar-benar berdiri di atas prinsip-prinsipnya, Gie menunjukan bahwa seorang aktivis mahasiswa tidak membenci seorang penguasa tetapi ia membenci bagaimana sistem yang dibangunnya, Gie menunjukan ia tidak berhenti mengkritik penguasa walaupun Soekarno telah tumbang tetapi ia juga tetap mengkritik Soeharto manakala ia sadar rezim militer yang jauh dari sifat demokrasi justru berkuasa. Namun sayang ia harus pergi di usia muda, tepat di umur 26 tahun, sehari tepat sebelum ulang tahunnya. Semoga ia meninggal dalam keadaan berbahagia seperti kalimat yang ditulisnya dalam buku catatan hariannya “berbahagialah mereka yang mati muda”.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini