Marwah Organisasi Mahasiswa


YAKINKAN DENGAN IMAN USAHAKAN DENGAN ILMU SAMPAIKAN DENGAN AMAL

Mahasiswa, sebuah kata yang penuh dengan makna dalam peradaban ini. Banyak hal yang telah dilalui oleh segerombolan pemuda-pemudi dengan status mereka sebagai pelajar tingkat perguruan tinggi. Rentetan peristiwa telah terekam setiap episode nya, dengan satu tujuan yang mereka genggam yakni kesejahteraan masyarakat demi kemajuan negara. Meskipun ragam suku, ras, agama, budaya, dan latar belakang almamater ataupun jurusan tidak menjadi penghalang untuk mereka dalam menjaga solidaritas sebagai pemuda bangsa.

Berbicara tentang mahasiswa juga tak dapat terlepas dengan organisasi nya, karena berawal dari wadah ini lah jati diri tiap-tiap mahasiswa/i bakal terbentuk dengan beragam karakter, pemikiran, dsb yang terdapat jika sudah masuk dalam lingkaran ini. Tetapi ketika membicarakan ini lebih intim, beragam organisasi mahasiswa memiliki sistem kaderisasi atau metode pembelajaran masing-masing. Perlu diketahui juga, bahwasannya organisasi dalam dinamika mahasiswa terbagi menjadi 2, yakni organisasi internal (ORMAWA/ORKEM/sebutan lain di masing-masing kampus) serta organisasi eksternal.

Dari organisasi internal kampus terlebih dahulu mungkin akan saya kupas dengan ala pemahaman yang saya miliki, organisasi internal atau bagi kawan-kawan sering menyebutnya dengan sebutan ORMAWA karena pada argumen alasannya, yakni tipe organisasi ini berkedudukan di dalam lingkungan kampus dan otomatis mendapatkan segala perangkat yang ada di dalam kampus (mulai dari anggaran, tempat sekretariat, penggunaan fasilitas kampus). Organisasi internal atau ORMAWA yang terkenal seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), HIMA (Himpunan Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).

Beragam organisasi yang telah tersebutkan mungkin sebagian yang saya pahami di beragam kampus lebih tepatnya pada kampus / perguruan tinggi negeri. Berbeda lagi dengan yang ada di perguruan tinggi swasta. Namun ada hal-hal yang menyebabkan organisasi dalam lingkup kampus ini mengalami perubahan ataupun bagi beberapa orang menganggap organisasi dalam lingkup kampus ini mengalami kemunduran dengan berbagai faktor yang dihadapi, salah satu faktor utamanya adalah birokrasi baik dari tingkat kampus hingga tingkat jurusannya. Dan hal tersebut tentunya membutuhkan waktu untuk perumusan strategi dari masing-masing individu di organisasi ini untuk memformulasikam gagasan nya agar tidak mati begitu saja organisasi nya. Tentunya pola gerakan yang mesti dibangun oleh teman-teman ormawa lekas direkonstruksi agar tidak kaku dalam menjalankan program-program kerja nya.

Beralih kepada pembahasan terkait organisasi eksternal, organisasi eksternal kampus atau yang sering disebut dengan ORMEK lebih dikenal pada 4 organisasi besar yang telah lama mengabdi pada peradaban bangsa ini. 4 organisasi ini yakni : HMI , IMM, PMII, GMNI. Keempat organisasi tersebut juga merupakan bagian dalam sebuah aliansi kelompok yang bernamakan Kelompok Cipayung Plus. Dan tentunya dalam hal ini perlu kita ketahui bersama bahwa organisasi mahasiswa eksternal terbesar dan terlama yang ada di Indonesia yakni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Organisasi ini telah berdiri sejak tahun 1947 , pendiri dari organisasi ini yang bernama LAFRAN PANE. Beliau merupakan mahasiswa STI (yang sekarang berubah nama menjadi UII) menggalang beberapa kawan-kawan seperjuangannya untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa dimana berasakan keislaman dan keindonesiaan. Tak lama setelah itu muncullah macam aneka ragam organisasi eksternal seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), dan organisasi eksternal yang lainnya.

Sejarah pergerakan telah mereka ciptakan sejak era orde lama hingga era reformasi ini. Meskipun konteks zaman cepat beralih nya, gagasan-gagasan dari masing-masing pemikiran mahasiswa yang berkecimpung di wadah ini khususnya di wadah organisasi eksternal sudah memiliki karakteristik sendiri dalam segi pemikiran dan tindakan pada wujud nyata nya.

Di era yang penuh dengan kedinamisannya, publik berasumsi melalui opininya dengan label “KEMANAKAH GERAKAN MAHASISWA SAAT INI ? TELAH MATI KAH SEJARAH PERJUANGAN YANG DULU DIDAMBA-DAMBAKAN OLEH RAKYAT ? APAKAH TELAH TERNINA BOBOKAN DENGAN KEKUASAAN YANG MEREKA GENGGAM DALAM INTERNAL NYA DAN MENJADI PASUKAN HAUS KEKUASAAN ISTANA ?” . Yaaa, beberapa opini dari publik mengenai arah gerakan mahasiswa yang seakan-akan dirasa sudah padam, padahal nyatanya belum sepenuhnya dapat dijudgementkan seperti tersebut. Mungkin itu ulah oknum yang memang tidak bertanggungjawab atas tindakan yang dibuatnya dan menjadikan nama organisasi nya menjadi bahan ghibah di mata publik.

Di era saat ini, masyarakat sudah semakin sadar dan melek akan perkembangan fenomena yang tiap detik tiap waktu tiap jam selalu bergulir. Lantas, mereka pun tak canggung pula untuk selalu mencantum kan identitas sang pewaris peradaban yakni para mahasiswa. Dikarenakan, mahasiswa merupakan kaum intelektual yang dimana mereka harusnya mampu mengkonversikan ilmu pengetahuan masing-masing untuk menjawab keadaan peradaban saat ini khususnya untuk lingkup negara ini.

Bagi saya pribadi, gerakan mahasiswa sudah saatnya berkolaborasi dengan dinamika peradaban. Karena, cara-cara usang yang telah dijalankan oleh para generasi di era terdahulu mungkin ada beberapa yang dapat menjadi referensi gerakan untuk era saat ini, tapi masih ada alternatif pola gerakan lain yang sekiranya bisa relevan dengan kondisi zaman saat ini.

Tetaplah dengan jalur kalian sebagai akademisi, jangan matikan jiwa kalian sebagai pengawal peradaban, jangan tinggikan diri kalian dengan gelar, karena kalian juga merupakan bagian dalam masyarakat yang lebih tepatnya sebagai control of social.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini