KAMI BUKAN MONYET!


Aku sangat benci diskriminasi ras dan segala bentuknya. Saya sudah memperjuangkannya selama hidup saya. Saya akan memperjuangkannya sekarang, dan akan melakukannya sampai akhir hayat – Nelson Mandela

Kerusuhan yang terjadi di Manokwari, merupakan buntut panjang dari insiden diskriminisasi yang terjadi di Kota Surabaya. Diawali pada hari Jumat (16/8) ratusan warga berkumpul, dari berbagai ormas mengepung asrama Mahasiswa Papua di jalan Kalasan. Sikap ini timbul karena, beredar kabar bahwa mahasiswa Papua yang di Surabaya tidak mau memasang Bendera Merah Putih.

Pada tanggal (17/8) Beredar pesan Grup Whatsapp bahwa mahasiswa papua melakukan perusakan Bendera Merah Putih. Beredar pula tindakan rasisme oleh aparat dimana anggota militer sebut mahasiswa dengan sebutan “Monyet”. Dilanjutkan dengan tindakan aparat kepolisian yang mengepung asrama Mahasiswa Papua dengan menembakan gas air mata ke dalam asrama, dan menangkap mahasiswa yang tidak bersenjata.

Akhirnya, dilaporkan sekitar 43 mahasiswa papua ditangkap tanpa alasan yang jelas, 5 terluka, 1 terkena tembakan gas air mata. Setelah diperiksa oleh pihak kepolisian, ternyata tidak ada mahasiswa papua yang jadi tersangka perusakan Bendera Merah Putih, artinya pesan yang beredar adalah berita bohong.

Muncul seruan aksi protes pada tanggal (18/8) terhadap tindakan rasisme, hingga menimbulkan semua orang Papua tersulut emosi. Akhirnya pada tanggal (19/8) Kota Manokwari membara, kota lumpuh hingga beredar vidio pembakaran gedung DPRD oleh masyarakat Papua. Tidak ada pendatang yang berani keluar rumah dan sempat muncul provokasi untuk mengusir orang Jawa dari Papua.

Melawan negara sendiri


Perjuangankau lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.- Bung Karno

Hampir diluar nalar bagaimana kita bisa melawan saudara sendiri. Namun jika kita kembali menelaah dan apa yang terjadi di Negara yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika, mungkin bisa menajdi rambu rambu peringatan untuk kita.

Indonesia sudah merdeka 74 Tahun, perpecahan dengan sesama saudara masih terus terjadi. Masyarakat kita dengan mudah termakan provokasi informasi tanpa memeriksa lebih jauh fakta-fakta yang ada. Setiap berita atau isu yang ada di berbagai media langsung ditangkap sebagai fakta tanpa menganalisi terlebih dahulu. Didukung dengan mental masyarakat yang lebih cenderung menghujat tanpa bermusyawarah terlebih dahulu. Sehingga salah satu golongan terpicu emosinya hingga menimbulkan provokasi yang berujung permusuhan.

Melawan bangsa sendiri bukan hanya selogan bung Karno yang selalu kita dengan di hari – hari peringatan nasional saja, melainkan benar-benar menjadi jiwa juang dan menolak segala informasi informasi yang berujung perpecahan, dan mengedepankan musyawarah terlebih dahulu. Untuk apa kita proklamasikan kemerdekan setiap 17 Agustus tetapi masih ada permusuhan dan perpecahan pemecah persatuan bangsa.

Menolak Rasisme, Papua Saudara Kita

Penindasan Papua masih marak terjadi dalam berbagai segi seperti, ranah ekonomi, pemerintahan, kesehatan dan kehidupan sosial yang berbeda jauh dari kota kota mayoritas di pulau Jawa. Meskipun pemerintahan saat ini Jokowi lebih membangun Papua dalam segala aspek seperti ekonomi, pembangunan infrastruktur maupun pendidikan. Tetapi itu tidak cukup hanya sekedar materi tetapi membutuhkan pengakuan dan menghargai apa perbedaan yang saat ini terjadi.

Apa yang terjadi rasisme di Surabaya dan pecahnya kekacaun di Manokwari, papua sudah menjadi sinyal bahaya bagi kedaulatan dan persatuan bangsa Indonesia. Pembakaran kantor DPRD Manokwari serta pemblokiran jalan sehingga kota menjadi lumpuh, merupakan bukti kekecewaan warga papua atas kelakukan sekelompok orang yang bersikap rasisme.

Saat ini menolak rasisme sudah harus dikumandangkan sebagai pesan perdamain untuk bangsa ini, sudah banyak korban rasisme yang berujung pertikain, perpecahan hingga perusakan karena merasa tersudutnya salah satu golongan.

Saat ini, negara kita sudah diujung tanduk dari imbasnya rasisme yang terjadi di saat ini, banyak sekali kerusakan fasilitas dan korban jiwa yang mengakibatkan negara ini carut marut. Kini bukan lagi ranah bupati, gubenur melainkan Presiden sudah mengambil sikap atas kekacaun yang terjadi saat ini di Papua dan belahan Indonesia, PAPUA SAUDARAKU.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini