Jadilah Mahasiswa Progressif!

“Kalian memandang ke atas ketika kalian merindukan pujian: tapi aku justru menunduk ke bawah sebab aku telah ditinggikan.” (Nietzsche)

“Muda atau tua tidak bergantung pada tanggal dalam suatu masa, tapi keadaan jiwa. Tugas kita bukan menambah usia pada kehidupan tapi menambah kehidupan pada usia.” (Myron J Taylor)


Kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter,untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini. (Victor Serge, Bolshevik)

Kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter,untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini. (Victor Serge, Bolshevik)

Lihatlah paras muka kalian hari ini. Letih, galau dan patah. Di kartu pelajar kalian seperti anak muda yang kecapekan. Ukuran foto tiga kali empat itu membuat wajah kalian serupa dengan sampul buku pelajaran. Kusut, masam dan menjemukan. Seolah sekolah itu bukan sebuah petualangan tapi beban yang dipanggul tiap hari. Ukuran keberhasilanya ada pada nilai bukan pada semangat meraih mimpi. Itu mungkin yang menyebabkan sekolah selalu berparas sama: bangku coklat dengan muka pahlawan yang juga letih.

Pangeran Diponegoro tak pernah tersenyum lepas dan RA Kartini berpenampilan sama dari tahun ke tahun. Kita jadi merasa maklum kenapa penjajahan berjalan lama karena para pahlawan dilukis tanpa gairah. Mereka seperti kumpulan manusia sunyi yang merasa menyesal karena tak bisa bertarung habis-habisan. Sekolah membuat seluruh peristiwa akbar jadi pentas yang monoton dan sepi dari tragedi. Seorang ulama pernah katakan: Nilai seseorang itu terletak pada cita-citanya.

Jika kamu ingin mengerti dirimu maka sebutkan keinginanmu. Mau jadi apakah dirimu kelak: pegawai yang punya gaji banyak atau petualang yang terus menjelajah ke semua tempat. Hidupmu akan dipertaruhkan untuk membuat nyaman atau terus menerus menari bersama badai. Kalau dunia bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan maka kaum terpelajarnya seperti sebilah bangku di terminal: menunggu dan menanti. Nasibnya seperti warna bangunan sekolah: pucat dan menjemukan. Tiap pengalaman belajar seperti sebuah rutinitas yang tidak asyik dan menggugah. Maka tiap kali pertanyaan meletus di hadapanmu: apa yang kamu sukai selama sekolah? Jawabanya selalu mengundang tawa: kalau guru tak masuk, kalau libur dan kalau istirahat. Seolah sekolah itu cerminan halaman bukan ruangan kelas yang padat oleh materi.

Kini kamu jadi MAHASISWA. Tinggal di kampus yang lebih luas dengan teman yang jauh lebih banyak. Berada di alam pikiran yang menantang dengan petualangan yang jauh lebih komplit. Tak ada baju seragam, tak ada pelajaran PPkN dan yang lebih penting lagi: tak ada ujian nasional. Inilah masa dimana kamu diajak untuk mengolah mimpi dengan semangat untuk meraih prestasi. Tidak hanya sejumput nilai tapi juga pengalaman berorganisasi. Nilai mungkin perlu untuk diraih tapi itu tak membuat kamu memegang kunci masa depan. Masih ada bekal lain yang kamu butuhkan: pengalaman dalam organisasi diantaranya. Kampus bukan tempat dimana lembaga Osis dan Pramuka beroperasi. Kampus juga memiliki Badan Eksekutif Mahasiwa, Pers Mahasiswa, Pecinta Alam dll. Singkatnya kampus punya pekarangan yang dihuni oleh para petualang yang punya mimpi besar mengenai masa depan. Mereka adalah orang yang menganggap hidup adalah rencana menanam mimpi. Hidup bukan pertarungan apalagi lomba.

Filsof Betrand Russel katakan, jika filsafat hidup adalah persaingan dimana penghargaan hanya diberikan untuk sang pemenang, maka hidup akan berjalan jadi tidak wajar, kita hanya mengutamakan kehendak dan melupakan panda indera dan intelek. Kita sama halnya dengan meletakkan kereta di depan kuda! Hidup bukan lomba: bersaing untuk meraih yang terbaik. Hidup bagi seorang anak muda adalah petualangan dimana yang terbaik tak selamanya berujud nilai. Tanya pada dirimu: ranking berapa kamu ketika duduk di kelas 4 SD? Berapa nilai matematikamu ketika kelas 5? Mungkin kamu lupa tapi juga kamu mungkin tak ingin mengingatnya. Seluruh pelajaran itu dikalahkan oleh pengalamanmu berteman dengan anak yang menyebalkan, guru yang inspiratif dan buku yang kamu baca dengan gairah. Harry Porter bisa menyihir imaginasimu. Pastilah ada sosok guru yang memberimu banyak ilham. Tentu saja seorang teman dapat jadi orang yang bisa berbagi kegelisahan. Sekolah diam-diam melalui caranya telah mendewasakanmu.

Cara yang serupa itu yang membentuk sosok seperti Bung Karno. Proklamator kita yang dulu kuliah dengan memenuhi dua peran: mahasiswa sekaligus aktivis. Sebagai mahasiswa diikutinya kuliah dengan kepatuhan tapi sebagai aktivis dirinya mempertanyakan keadaan. Gejolak mudanya tak bisa menerima penindasan yang dilakukan dengan semena-mena. Tak ingin rakyatnya berkabut dalam kebodohan maka dicetuskan oleh Bung Karno kursus kewarganegaraan. Cita-cita kemerdekaan bermula dari sana. Seorang mahasiswa bersama teman-temanya membangun kesadaran rakyat untuk hidup sebagai bangsa merdeka. Di samping bung Karno ada bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Ki Hadjar dll. Singkatnya negeri ini berdiri dengan semangat baja para mahasiswa yang tak mau hidup dengan seadanya. Pada masa itu para mahasiswa membacakan syair Rene de Clerq: Hanya ada satu negeri yang bisa menjadi Tanah Airku, yaitu negeri yang berkembang karena perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku.

Kita sudah lama tak mendengar syair itu lagi. Patriotisme itu luntur dan berantakan. Pendidikan tak melatih kecintaan dan kepedulian pada sesama. Pendidikan malah menciptakan hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar semuanya. Tak hanya itu pendidikan juga menciptakan penjahat berdasi dengan kebebasan melakukan korupsi. Kita pedih, sakit dan kecewa dengan itu semua. Pedih karena begitu gampang para pejabat itu menyamun harta rakyat tanpa pernah merasa bersalah. Kita semua sakit karena kejahatan tampaknya tak pernah bisa dihentikan dengan prosedur yang ada. Kemudian kita kecewa dan malu karena negara ini terus duduk dalam posisi dunia yang padat sindiran: surga untuk para pencuri. Kini kalian semua hidup seperti pada masa lampau: dijajah oleh para penguasa asing dengan menghabisi semua sumber kekayaan alam.

Sejenak kita selidiki: siapa yang menjarah kekayaan emas di tanah Papua? Siapa yang menikmati gas alam di tanah Bintuni? Siapa yang menjarah kayu, tambang dan batu bara di Kalimantan? Kita seperti kumpulan rakyat pandir yang terus diberitahu bahwa bunyi undang-undang soal tanah dan kekayaan alam dikuasai negara itu betul-betul terjadi. Padahal kita mengerti kalau pasal itu sudah lama tak ditegakkan. Tak hanya itu: kita semua tergantung pada impor apa saja; garam, beras, gula, bawang hingga daging. Yang kita punya adalah kumpulan penduduk yang disihir oleh sebuah jargon namanya kemajuan dan globalisasi. Maka dipuaskan rakyat oleh tontonan yang menghibur serta menyakitkan: kesebelasan sepak bola dunia datang dengan tugas khusus menghajar habis-habisan tim nasional. Sialnya kita gembira menyaksikan ini semua. Kita seperti bangsa naif yang duduk menonton kemajuan bangsa lain.

Puisi Rendra melukiskan suasana ini:

Bangsa kita ini seperti dadu

Terperangkap dalam kaleng utang

Yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa,

Tanpa kita berdaya melawannya

Semuanya terjadi atas nama pembangunan

Yang mencontoh tatanan pembangunan

Di zaman penjajahan

Maka waktunya kalian mahasiswa merombak kesadaran palsu ini. Caranya tak lain adalah bekerja bersama rakyat dan hidup dalam organisasi. Dulu Soekarno melakukan itu dengan menyapa semua rakyat yang ditimpa kesusahan. Pidato Soekarno seperti membangunkan kesadaran rakyat atas masalah yang dihadapi. Hatta melengkapinya dengan semangat mendidik. Lalu Tan Malaka meniupkan keberanian dan persatuan. Singkatnya mereka melakukan apa yang jadi kebutuhan sebagai bangsa pejuang. Bangsa yang tak mau tunduk pada tekanan dan tak mudah terpesona oleh janji. Guna memenuhi janji diatas itulah mahasiswa tak bisa lagi berdiam dan berpangku tangan. Sejarah menunjuk bukti kalau mahasiswa selalu mengambil peran bersejarah: meruntuhkan kekuasaan otoriter dan memproduksi gagasan besar perubahan.

Ikhtiar untuk menuju cita-cita mulia itu dapat dirintis dari sekarang: kuliah sambil berorganisasi. Kuliah sembari berkarya. Dan kuliah dengan tetap mengenggam harapan atas perubahan. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka hingga Moh Natsir memulai masa muda seperti kalian: nekat, imaginatif, pintar dan romantik. Wajah mereka tak jauh dari kalian: sederhana tapi berani. Penampilanya juga mirip dengan kalian: gaya sekaligus nekat. Maka titik persamaan itulah yang semustinya membuat kalian mampu untuk melompat melampaui zaman. Seperti yang dulu mereka lakukan. Kekuatan lompatan itu ada pada visi. Bukan sebuah angan-angan tapi harapan yang dilukiskan dengan keyakinan. Takkan mudah merubuhkan keyakinan jika kita erat memegang harapan. Walt Disney berucap tentang itu:

Di saat kaulambungkan harapanmu setinggi langit

Siapa pun dirimu

Apa pun yang kaudambakan

Pasti akan terwujud

Maka kuucapkan sekali lagi padamu: Selamat Datang mahasiswa baru. Selamat menikmati petualangan. Jadikan hari-harimu penuh pengalaman. Dan buatlah itu sebagai pengalaman yang beresiko dan berkesan. Hanya melalui cara itulah kamu bisa membawa mimpimu. Mimpi bukan buat dirimu sendiri tapi mimpi untuk bangsa yang sekarang tak berani lagi unjuk muka. Di hadapan bangsa-bangsa tetangga apalagi bangsa adidaya. Kerahkan semua keyakinan dan tunjukkan bahwa kamu bukan generasi pemalas, konsumtif dan tak peduli. Kamu adalah generasi terbaik yang dilahirkan pada zaman yang kusam. Ubah dan rubuhkan kekuatan apa saja yang meluncurkan keyakinanmu. Ubahlah dirimu, duniamu dan masa depanmu. Hanya dengan cara seperti itulah kamu hadirkan kembali mereka: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka. Pada merekalah kita berhutang maa lalu dan masa depan. Terimakasih.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini