Hari Guru Bukan Sekedar Perayaan Belaka

Izinkan saya memulai tulisan ini dengan memberikan ucapan selamat hari guru kepada guru-guru saya, kawan-kawan guru dan seluruh guru di Indonesia. Hari Guru bukan lah perayaan semata, jika kita merujut pada Kongres Guru pertama kali tahun 1945 di Surakata, semangat guru-guru tersebut atas dasar persatuan dan perjuangan. Persatuan untuk seluruh guru-guru Indonesia agar bersatu, dan perjuangan dalam rangka mendukung perlawan rakyat Surabaya melawan tentara Netherland Indies Civil Administration (NICA) dan perjuangan bangsa Indonesia (Catatan Kongres Goeroe Indonesia I, dalam Wawan: 2004).

Saya memberikan apresiasi tinggi kepada Mas Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atas sambutan beliau dalam rangka Hari Guru Nasional 2019. Sambutan Mas Menteri adalah sambutan terjujur dan sangat sederhana yang saya ketahui selama ini. Mas Menteri begitu jujur mengungkapan perasaan guru dalam mengajar, juga mencoba memahami permasalahan yang dialami oleh guru. Menjadi guru bukan sekedar melakukan tugas belajar mengajar kepada peserta didik, ada lagi tanggung jawab lain cukup membebani guru salah satunya adalah tugas administrasi yang rumit dan banyak. Dalam sambutannya, Mas Menteri mengatakan “Anda ingin membantu murid yang mengalami ketinggalan di kelas, tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan administrasi tanpa manfaat yang jelas”, jelas disini beliau mengetahui jika beban administrasi menjadi permasalahan guru saat ini. Beban administrasi yang dimaksud adalah komponen guru dalam masalah pembelajaran, dari mulai membuat rencana pelaksanaan pembelajaran hingga penilaian terhadap siswa. Sayangnya hal tersebut tidak masuk dalam hitungan sebagai beban kerja, sebab beban kerja guru dihitung dari jam guru tersebut mengajar. Jadi bisa dikatakan jika guru tidak memiliki hari libur, setelah melakukan tugas mulia pada hari kerja, akhir pekan mereka selanjutnya dihabiskan dengan mengerjakan pekerjaan administrasi tersebut. Fungsi politis guru ini dikalahkan oleh keinginan Negara mengatur secara administratif pengelolaan guru dan menumpahinya dengan peningkatan pendapatan (Eko Prasetyo, 2007: 163). Sehingga banyak guru yang rela mengisi waktu luangnya dengan mengerjakan beban administrasi tersebut demi mendapatkan insentif lebih agar kebutuhan rumah terpenuhi. Tidak hanya bicara mengenai beban administrasi guru, Mas Menteri juga menyinggung tentang kebebasan guru dalam mengajar yang dibatasi oleh kurikulum, sedikit mengenai perlindungan guru meskipun belum tegas, dan stigma terhadap profesi guru sebuah pekerjaan yang mulia.

Permasalahan guru yang banyak dan kompleks seperti yang dijabarkan di atas, akhirnya bermuara pada masalah kesejahteraan guru. Tidak seperti pendahulunya, dalam sambutannya Mas Menteri tidak menyinggung masalah kesejahteraan guru, meskipun saya yakin beliau tau betul jika kesejahteraan menjadi masalah yang kerap kali dialami oleh guru. Beliau memang sampaikan tidak akan memberikan harapan, tapi dia meyakinkan bahwa perubahan menjadi hal tersulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Sebuah pernyataan yang sesungguhnya menjadi ketegasan akan memberikan perubahan dan harapan kepada guru di masa depan nanti.

Harusnya hari guru menjadi momentum perjuangan oleh guru-guru untuk lebih sejahtera, lebih terlindungi, dan hal lain yang membuat guru naik kelas. Namun yang terjadi perayaan hari guru oleh pemerintah nyatanya hanya ceremonial belaka. Guru-guru dikumpulkan dalam suatu upacara, Presiden memberikan sambutan dan janji-janji kepada guru, tanpa sadar bahwa permasalahan guru yang banyak tersebut harus segera diselesaikan pemerintah. Ironisnya sang guru seolah ternina bobokan oleh janji manis pemerintah dalam setiap perayaan hari guru nasional. Akhirnya sepeti tahun – tahun sebelumnya, hari guru nasiopnal hanyalah sebuah perayaan belaka, pemberian penghargaan kepada guru berupa tanda jasa, potong tumpeng, dan kemeriahan lain yang jelas jauh dari makna hari guru sesungguhnya. Selayaknya orang yang berulang tahun tentu ada akan selalu ada harapan dari tahun ke tahunnya, dan tentu saja ditahun berikutnya harapan itu akan berganti. Selama ini harapan dari guru atau guru diberikan harapan yang selalu sama yaitu; kesejahteraan guru.

Kesejahteraan guru merupakan salah satu bagian terpenting dalam menunjang profesi guru, sebab meskipun guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bukan berarti guru hanya cukup diberikan apresiasi berupa moral saja, namun bukan butuh secara materil. Kurangnya dukungan financial maupun nonfinancial terhadap profesionalisme guru ditenggarai sebagai indikator lemahnya kedudukan guru dibanding profesi lainnya (Asep Sapa’at, 2012: 57). Financial dalam hal ini kesejahteraan guru menjadi pembanding paling nyata dari profesi lainnya, dengan beban tugas yang berat dan stigma profesi guru yang melekat tidak sebanding dengan pendapatan oleh guru. Menurut Momon Sudarma mengenai kesejahteraan guru yang tergantung pada; (1) tergantung ketersediaan dana Negara, (2) angin politik penguasa, (3) keobjektivan dan kelancaran proses sertifikasi (Momon Sudarma, 2013:192). Pernyataan ini didasarkan oleh rasa pesimis oleh guru-guru selama ini dalam rangka peningkatan kesejahteraan guru., sebab bicara kesejahteraan guru adalah sebuah isu yang menarik dan selalu ada setiap tahunnya. Seolah-olah kesejahteraan guru sengaja dibiarkan begitu saja agar ada isu yang dapat dibahas setiap tahunnya baik oleh politisi, maupun pemangku kebijakan. Kedepan harapan saya sebagai rakyat biasa adalah kesejahteraan guru dapat meningkat lebih dari sebelumnya. Bagi saya kesejahteraan guru yang cukup adalah ketika sang guru tidak lagi khawatir memikirkan urusan dapur, ketika guru dapat mengupgrade ilmunya dengan membaca, membeli buku-buku baru untuk menunjang proses pembelajaran dengan sejahtera.

Permasalahan guru memang banyak sekali dan sangat kompleks, namun bukan berarti tidak dapat diselesaikan. Menyelesaikan masalah guru saya rasa bukan hal yang sulit, jika pemerintah serius mau menyelesaikannya. Jelas kita harus mengembalikan permasalahan guru ini kepada pemerintah selaku pemangku kebijakan. Namun kita tidak bisa banyak berharap pada pemerintah, guru-guru harus berjuang untuk itu semua, sebagaimana guru – guru dahulu berjuang untuk kepentingan bangsa dan profesi guru. Sudah banyak pembelajaran dapat diambil dari perjuangan guru dari Kongres Guru pertama tahun 1945, gerakan guru tahun 1999 terhadap demokrasi Indonesia, tahun 2000 gerakan guru menuntut kesejahteraan guru, dan gerakan guru ditahun 2004 mendesak segara terbitnya Undang-Undang Guru. Marilah kita jadikan hari guru bukan sekedar perayaan belaka, melainkan sebuah perjuangan bagi guru-guru semua. Saat guru berusaha menemukan potensi terbaik dari kita, mereka mengeluarkan yang terbaik dari dirinya, semata-mata untuk pengabdian, tanpa tanda jasa, tentu berlimpah pahala, tempatmu adalah yang terindah. Selamat Hari Guru Nasional 2019.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini