Cirebon Dalam Sobekan Sejarah Revolusi Kita

Dalam cerita sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia kebanyakan dari kita hanya mengenal peristiwa Rengasdengklok dimana sehari sebelum proklamasi dibacakan Sukarno dan Hatta diculik, atau Bandung yang di bakar dan menjadi lautan api, atau Yogyakarta yang sempat menjadi Ibukota, atau pertempuran 10 november di Surabaya, tetapi selain cerita – cerita tersebut ternyata ada cerita seputar revolusi kemerdekaan Indonesia yang masih banyak belum mengetahuinya.

Mungkin masih banyak diantara kita yang belum tahu jika proklamasi Indonesia pernah dibacakan sebelum tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya dua hari sebelum proklamasi yang dibacakan oleh Sukarno dan Hatta di Jakarta, proklamasi sudah lebih dulu pernah dibacakan, bukan di Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya, kota – kota yang sering disebut dalam perjuangan revolusi kemerdekaan kita, tetapi di sebuah kota kecil di pantura sebuah kota yang jarang disebut dalam cerita revolusi kemerdekaan kita.

Cirebon, sebuah kota kecil di Pantura itu mungkin jarang disebut dalam cerita revolusi kemerdekaan Indonesia, bahkan orang – orang lebih mengenal Rengasdengklok tetapi siapa sangkah bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia justru pertama kali dibacakan di kota itu, siapa lagi jika bukan Sutan Syahril dan golongan bawah tanahnya yang merencanakannya, sebenarnya banyak kota yang dipilih untuk menjadi tempat pembacaan proklamasi yang disiapkan oleh Sultan Syahril dan golongan bawah tanahnya ini namun hanya di Cirebon lah kelak teks proklamasi itu dibacakan.

Teks proklamasi yang diketik langsung oleh Sutan Syahril ini langsung dikirim dan dibacakan oleh Dokter Sudarsono Kepala RSU Kesambi yang sekarang menjadi RSUD Gunung Jati, tepat tanggal 15 Agustus 1945 di Alun – Alun Kejaksan, teks yang berisi kurang lebih 300 kata ini dibacakan di hadapan sekitar 150 orang yang mayoritas adalah golongan muda anggota gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Sutan Syahril.

Peristiwa pembacaan proklamasi di Cirebon yang dirancang oleh golongan muda ini tidak begitu banyak diketahui oleh masyarakat banyak, entah karena cerita itu tersobek dari sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia atau sengaja disobek dari sejarah revolusi kita agar tidak membuat kebingungan sejarah, dengan peristiwa pembacaan proklamasi Jakarta yang lebih dulu kita kenal, tetapi peristiwa proklamasi di Cirebon ini menunjukan tekat dan keberanian golongan muda untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

Peristiwa proklamasi di Cirebon kelak juga membuat perundingan dengan belanda dimasa kabinet Sutan Syahril dilaksanakan di Sekitar Kota Cirebon yaitu di Linggarjati yang kurang lebih berjarak 27 KM dari Kota Cirebon, dipilihnya Linggarjati menjadi tempat perundingan itu bukan tanpa alasan, Indonesia yang saat ini baru merdeka belum aman, banyak pihak – pihak yang ingin menculik dan membuat kekacauan di dalam kabinet, maka dipilihnya wilayah sekitar cirebon yang memang dari sebelum kemerdekaan sudah memiliki ikatan perjuangan yang besar dengan Sutan Syahril.

Perundingan berhasil dilaksanakan dengan aman dan lancar bahkan beberapa kesempatan delegasi dari Indonesia maupun Belanda terlihat akrab dengan masyarakat sekitar, meski kelak hasil perundingan membuat banyak pihak yang mengkritiknya karena menguntungkan pihak Belanda, hingga Bung Karno yang menerima laporan hasil perundingan dari Sutan Syahril marah dan menganggap Syahril hanya keras kepada fasisme Jepang dan bersikap lembek terhadap Kolonialisme Belanda.

Saat ini peristiwa proklamasi di Kota Cirebon hanya meninggalkan sebuah tugu monumen yang terletak tak jauh dari Alun – Alun Kejaksan, walaupun teks proklamasi itu hingga sekarang tidak diketahui keberadaanya, tetapi monumen itu menjadi salah satu saksi keberhasilan golongan bawah tanah di kota udang itu mengusir penjajah.

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini