21 tahun Reformasi

Kisah gerakan mahasiswa tahun 1998 masih melegenda hingga saat ini. Kisah itu selalu diceritakan dalam acara-acara kaderisasi di kampus sebagai bentuk kebanggaan mahasiswa atas peran kelompok mereka dalam mengubah negeri ini.

Tak jarang, diskusi-diskusi mahasiswa di kampus saat ini kerap kali diisi oleh para mantan aktivis 1998. Di forum itulah satu-persatu dari mantan aktivis 1998 bercerita mengenai heroisme angkatan mereka ketika berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru.

Dan kini reformasi sudah berusia 21 tahun. Mahasiswa dengan segala kegiatan dan kesibukannya diharapkan dapat meneruskan perjuangan dan cita-cita reformasi 21 tahun lalu.

Kini, setelah 21 tahun reformasi berjalan, di manakah para aktivis itu?

Akhir-akhir ini gelora para mantan aktivis itu kembali muncul ke permukaan. Namun, mereka bukan tampil untuk mengoreksi pemerintah seperti pada masa Orde Baru. Kini, mereka lebih sering buka suara terkait kondisi Pilpres 2019.

yang menjadi pertanyaan adalah apakah ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa saat ini mantan aktivis 1998 tak lagi memiliki taring dan sudah menjadi partisan politik? 

1. Budiman Sudjatmiko


Mantan mahasiswa FE UGM ini sempat dipenjara selama 3,5 tahun oleh rejim Soeharto atas aktivitas yang dilakukan di PRD. Sempat memimpin PRD untuk mengikuti Pemilu tahun 1999, namun kemudian meninggalkan PRD untuk bergabung dengan PDI Perjuangan pimpinan Megawati. Di PDIP Budiman aktif sebagai salah satu dewan pimpinan PDI Perjuangan.

Budiman memperoleh dua gelar dari Inggris untuk hubungan internasional dari University of Cambridge dan University of London School of Oriental and African studies. Budiman pernah terdaftar sebagai associate PT Securindo Gada Patria, sebuah usaha yang menyediakan jasa pengamanan bagi klien-kliennya. Saat ini Budiman Sudjatmiko menjadi anggota DPR dari PDIP


2. Andi Arief


Pria kelahiran Lampung 20 November 1970 diculik di depan Ruko milik keluarganya di daerah Way Halim Lampung pada akhir Maret 1998 dikarenakan aktivitas yang dilakukan di PRD. Setelah dibebaskan, nama Andi Arief tidak terdengar di peta perpolitikan nasional. Tetap tinggal di Lampung dan sempat menjadi pengurus Softbal, dan menjabat sebagai Komisaris independen PT Pos Indonesia. Saat ini Andi Arief adalah staf khusus presiden untuk Bantuan Sosial dan Bencana Alam. Andi Arief sempat mencuat dalam perdebatan politik ketika mengadukan Misbakhun (inisiator hak angket Century) ke Mabes Polri terkait kredit fiktif yang diterimanya.

3. Fahri Hamzah

Cerita Fahri berlanjut ketika ia mengingat perannya di masa itu. Fahri bercerita, peranannya saat reformasi ada dua, yaitu berkomunikasi dengan elite Indonesia, baik yang berada di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

Fahri melanjutkan, selain berkomunikasi dengan elite pemerintahan, ia juga berkomunikasi dengan elite-elite luar pemerintahan seperti Amien Rais, salah satu tokoh inti dalam reformasi. Bukan hanya elite, kala itu Fahri juga mempunyai tugas untuk berkomunikasi dengan jaringan massa dan juga para mahasiswa.

Setelah rezim Orde Baru berakhir dan bersamaan dimulainya era Reformasi pada 1999, Fahri mulai aktif menjadi staf ahli MPR hingga 2002. Usai 2 tahun menjadi staf ahli, karier politik Fahri semakin naik ketika ia bergabung di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Pemilu 2004.

Ia pun terpilih sebagai anggota DPR Dapil NTB. Karier politiknya terus menanjak ketika Fahri selama tiga periode selalu terpilih menjadi anggota DPR RI Fraksi PKS. Puncaknya, di Pemilu 2014, ia terpilih menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019.


4. Amien Rais

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais merupakan salah satu tokoh yang paling terkenal yang kemudian sempat disebut bapak reformasi. Amien Rais saat itu jadi bintang. Dia dielu-elukan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto segera mundur. Amien lah satu-satunya tokoh nasional yang diizinkan mahasiswa masuk dari gerbang utama DPR.

Amien Rais dikenal sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Namanya kian mencuat di ranah politik Indonesia terutama pada era reformasi 1998.

Pria ini juga dikenal sebagai pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), sebuah partai yang lahir pada tahun 1998 untuk mengikuti Pemilu 1999. Amien Rais sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum DPP PAN yang pertama.

5. Adian Napitupulu

Adian Napitupulu begitu sapaan akrabnya adalah seorang politikus dan aktivis, yang saat ini menjabat  sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan mewakili daerah pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) sejak tahun 2014.

Pria berdarah Batak ini sekarang menjabat sebagai anggota Komisi VII DPR. Posisinya sebagai Anggota Dewan ini, dirinya memiliki tugas dan tanggung jawab dibidang  energi, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup.

Sejak Adian dikenal sebagai seorang aktivis, pria kelahiran 9 Januari 1971 memiliki rekam jejak yang cukup panjang. Pada tahun 1991, Adian sempat ditangkap dan ditahan ketika menjadi buruh di sebuah pabrik kayu karena keterlibatannya dalam 5 kali demontrasi dan pemogokan di pabrik, Adian kemudian diberhentikan dengan tidak hormat.

6. Pius Lustrilanang


Dilahirkan di Palembang, Pius Lustrilanang diculik di Jakarta dan ketika itu aktif memimpin Aliansi Demokratik Rakyat (Aldera) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Setelah dibebaskan, dirinya lah yang sempat menjadi selebriti perpolitikan ketika berbicara lantang mengenai apa yang dialaminya selama penculikan. Walaupun kemudian pergi ke Belanda dengan alasan keamanan.

Pius ikut mendirikan Majelis Amanat Rakyat yang kemudian menjadi Partai Amanat Nasional. Pada tahun 2005, Pius bergabung dengan PDI Perjuangan. Karena prinsip, akhirnya Pius keluar dari PDIP dan bergabung dengan Partai Demokrasi Pembaruan.

Jika dulu sematan aktivis melekat dalam diri mereka, mungkin sekarang sudah tidak lagi Karena mereka sudah menjadi politisi, Kiprah mereka yang masuk kedalam sistem dengan niat awal memperbaiki sistem yang bobrok nyatanya mereka tidak berdaya menghadapi para oligarki di istana dan justru mereka terlena dengan budaya partisan partai politik yang mengharuskan mereka mengikuti arus politik partainya.

Hal ini sekaligus mempertegas anggapan mereka yang ingin memperbaiki sebuah sistem yang buruk dengan cara masuk kedalam sistem itu sendiri ternyata bukan merupakan solusi yang tepat jika memang seseorang itu tidak mempunyai pendirian yang kuat, idealisme mereka luntur ketika harus berkompromi dengan para politisi, taring mereka patah seketika ketika mereka hanyut terbawa arus politik praktis, dan auman mereka dulu ketika sedang melakukan aksi seketika senyap dikalahkan kepentingan partai politiknya.

Editor : Aditya Panca

Bantu sebarkan tulisan ini:
error
Top
error

Share Tulisan Ini